Development Basketball League atau DBL

Emilio, presiden sekolah asrama siswa di sekolah asrama, berteriak keras untuk teman-temannya di apel pagi sebelum akan kesibukan belajar mengajar dimulai. Dia berteriak: “Pertunjukan?” Teman-temannya menjawab bersama dengan hati-hati, “Ya!” Kemudian dia memanggil lagi: “Narkoba?” Ketua OSIS masih meneriakkan “Penampilan, ya” dan “Narkoba, tidak!”, Hingga tiga kali kepada teman – teman. Apakah slogan-slogan ini dapat menangani tingkah laku negatif mereka dikala remaja melacak identitas mereka? Sungguh ironis dikala slogan dihadapkan bersama dengan kenyataan seperti pesan berasal dari belas kasihan mengenai remaja yang menggunakan narkoba waktu mengendarai mobil dan lantas kecelakaan yang membunuh pejalan kaki yang tidak bersalah. Posting mengenai kejahatan remaja ABG di Bali, jembatan remaja antar sekolah berkontribusi pada daftar hitam kejahatan remaja yang menyebabkan hati ini tambah sedih.

Tidak cuma itu. Ketika saatnya bagi seluruh orang, terhitung remaja, untuk menafsirkan Hari Valentine sebagai wujud cinta pada teman-teman, ini disalahartikan oleh seks bebas atau pesta minuman keras. Saya menyaksikan kejadian ini di televisi swasta dan perlihatkan bagaimana polisi menyerang remaja yang bolos sekolah pada Valday (Hari Valentine). Situasi yang sangat kontradiktif. Slogan-slogan positif dan tingkah laku remaja di kalangan remaja sangat tersedia dan terus bergulir selama berabad-abad, yang tampaknya jadi masalah abadi. Adalah tugas pemerintah, pendidik dan pengamat pendidikan, serta orang tua, untuk meminimalkan tingkah laku negatif dan, sejauh mungkin, menyalin tingkah laku positif remaja supaya mereka bakal tetap berpura-pura selama jaman remaja. Salah satu kesibukan positif untuk menangani masalah ini adalah DBL, yang pertama kali diselenggarakan pada th. 2004 di Surabaya. DBL adalah kompetisi pertama di Indonesia yang mengembangkan konsep Student Athlete yang berasumsi sekolah serupa pentingnya bersama dengan kompetisi bola basket. Setelah empat th. pembangunan di Surabaya, pada 2008, DBL menyebar ke sepuluh provinsi di Indonesia.

Pada 2008, DBL dihadiri oleh lebih berasal dari 13.000 pemain dan ofisial, ditonton oleh lebih berasal dari 210.000 penonton. Pada th. 2009, jumlah pengunjung meningkat jadi lebih berasal dari 18.000 orang dan jumlah pirsawan meningkat jadi lebih berasal dari 400.000. Hal ini menjadikan DBL kompetisi basket terbesar di Indonesia di setiap level. Itulah sebabnya DBL jadi kompetisi pertama di Indonesia pada 2008 untuk bekerja serupa bersama dengan NBA. Acara NBA pertama di Indonesia diselenggarakan pada Agustus 2008 di DBL Arena Surabaya. Dengan kapasitas 5.000, pirsawan DBL Arena dibangun pada 17 Desember 2007 dan dibuka cuma tujuh bulan kemudian. Tepat pada 26 Juli 2008. Dari 2009, DBL dikelola semuanya secara profesional oleh DBL Indonesia. Sejak 2010, DBL membuat perubahan namanya jadi LEAGUE BASKETBALL DEVELOPMENT sambil menjaga konsep Student Athlete. Pada th. 2009, 861 tim berpartisipasi, 18.739 peserta terdaftar, 985 pertandingan didalam 162 hari dan menyaksikan 402.000 lebih banyak pirsawan (sumber information berasal dari www.dblindonesia.com).

DBL Sulawesi Utara diakui oleh bermacam pihak sebagai kompetisi bola basket siswa terbesar dan paling menarik pada perusahaan / perguruan tinggi di provinsi Suluwesi Utara. Kompetisi ini diselenggarakan setiap th. dan dihadiri oleh sekolah-sekolah berasal dari Manado, Tomohon, Tondano, Bitung, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Kotamobagu. Dibagi jadi tim pria dan wanita. Pada 2010, 30 tim putra berpartisipasi didalam DBL, waktu tersedia 20 tim sekolah untuk putri mereka. Juara tim putra dimenangkan oleh Lokon High School. Putri tim SMA Eben Haezer. Pada 2011 tersedia 32 tim putra, 21 tim wanita. Juara putra dan putri dimenangkan oleh Sekolah Menengah Eben Haezer. Sementara tim putra dikunjungi pada 2012 oleh 31 sekolah, 23 tim wanita. Tidak tersedia juara sebab mereka waktu ini beradu berasal dari 10 Februari sampai final pada 18 Februari 2012. Kompetisi terjadi di Hall B GOR ‚Äč‚ÄčKoni Manado.

Ketika DBL diselenggarakan di Manado, antusiasme anak muda yang dikoordinir oleh masing-masing sekolah lumayan tinggi. Dalam hal ini, tidak cuma para pemain menyaksikan waktu berlaga, tetapi para pendukung berasal dari setiap sekolah diperlakukan bersama dengan atraksi tari atau pemandu sorak berasal dari setiap sekolah yang berlaga. Tarian ini tidak harus dipersoalkan untuk pilih siapa yang jadi juara dansa di akhir kompetisi DBL. Perang koherensi, koreografi dan kreativitas serta type yang menarik dipoles di setiap tampilan, menyebabkan kompetisi ini menarik. Teriakan dan lagu dinyanyikan bersama dengan penuh stimulus oleh para pendukung yang senang tak senang jadi permusuhan yang menarik untuk menjatuhkan mentalitas lawan. Dengan kode berpakaian seragam disempurnakan spanduk dan instrumen perkusi, performa olahraga bakal tambah meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *