Kenapa Tidak ada Satupun Pemain Indonesia yang Bisa Lolos


Tur bulutangkis BWF World Tour Thailand Open Super 500 2019, yang akan berakhir besok pada hari Minggu (4/8), ternyata dimainkan lebih cepat untuk para pemain Indonesia. Itu setelah tidak ada pemain Indonesia yang lolos ke semi final. Dari empat wakil Indonesia yang tampil di perempat final, yang diselenggarakan di Indoor Stadium Huamark, Bangkok, pada Jumat (2/8) siang hingga sore ini, mereka seluruh kalah. Termasuk Master unggulan Indonesia, Marcus Gideon / Kevin Sanjaya, yang pada mulanya memenangkan gelar berturut-turut di Indonesia Open dan Japan Open. Mengapa tidak ada pemain Indonesia yang mampu lolos ke semifinal Thailand Terbuka pada 2019? Apakah karena pengaruh melelahkan yang Anda kudu terlihat dalam tiga turnamen berturut-turut? Kelelahan sesungguhnya adalah penyebab paling kredibel dari kegagalan keseluruhan pemain Indonesia di Bangkok. Kevin / Marcus kebanyakan terasa bahwa mereka bukan robot, namun orang biasa yang mampu terasa lelah juga.

Setelah tiga minggu berturut-turut tampil di tiga turnamen antar negara, situasi fisik Marcus / Kevin turun. Kurangnya stamina yang terlalu baik pengaruhi kinerja mereka saat dihadapkan bersama dengan ganda putra Jepang, Hiroyuki Endo / Yuta Watanabe di perempat final. Tidak seperti biasanya, ganda putra nomor 1 dunia sering membuat kekeliruan sendiri di kompetisi penting. Faktanya, banyak dari stroke mereka tidak akurat. Serangan mereka termasuk tidak cukup kuat untuk membagi pertahanan ganda Jepang, yang dikenal memiliki pertahanan yang tidak mampu ditembus. Pada selanjutnya Marcus / Kevin adalah permainan karet bersama dengan skor 17-21, 21-19, 14-21 dari posisi ganda dunia 5. Hasil di pertandingan ketiga tunjukkan seberapa baik hubungan mereka. Setelah 9-11 Marcus / Kevin berhasil menyamakan skor. Namun, poin mereka terhenti di nomor 14. Kekalahan ini tidak hanya membuat Marcus / Kevin tidak mampu memenangkan Thailand Terbuka untuk pertama kalinya. Mereka termasuk tidak mampu membalas kekalahan Endo / Watanabe di final Kejuaraan Asia 2019 di Wuhan, Cina, pada akhir April.

Dikutip dari Badminton Indonesia, Kevin menyatakan bahwa dobel pria Jepang sesungguhnya bermain terlalu baik dan tidak ringan terbunuh. “Di pertandingan ketiga kita terlalu kelelahan, menjadi serangan itu tidak ditekan dan banyak yang lain hilang. Tidak kasus selama kita tahu di mana kesalahannya dan kita studi ulang untuk jaman depan,” kata Kevin. Sementara Marcus menyatakan bahwa perasaan lelah tidak mampu dijadikan alasan. Meski tidak ditolak jikalau kondisinya demikian. Dia lebih fokus pada lawan yang dia sebut bermain lebih baik.
“Pasti lelah, kita terus bermain. Tentu saja, kekuatannya hilang. Kita kudu lebih sabar bermain bersama dengan mereka karena tidak ringan untuk mematikan. Kita tidak boleh terlalu tergesa-gesa,” kata Marcus.

Dari empat wakil Indonesia yang tampil di perempat final, yaitu Fitriani, Shesar Hiren Rhustavito dan Greysia Polii / Apriani Rahayu, tidak mampu dipungkiri bahwa Marcus / Kevin adalah yang paling kelelahan. Selama tiga minggu mereka tidak hanya kudu tampil di sirkuit, namun termasuk kudu terbang dari Jakarta ke Tokyo. Kemudian tukar ke Bangkok. Greysia / Apri dan Fitriani bahkan terlihat di Indonesia Terbuka dan Jepang Terbuka sebagai Marcus / Kevin. Greysia / Apri dan Fitriani tidak pergi jauh hingga final. Artinya, kuantitas pertandingan yang mereka mainkan tidak terlalu banyak. Bandingkan bersama dengan Marcus / Kevin, yang selamanya mampu lolos ke final dan juara di dua turnamen. Itu sebabnya energi mereka terlalu terkuras. Di babak kedua Thailand Terbuka, Kamis (1/8), mereka termasuk kudu memainkan tiga pertandingan kemarin sambil mengalahkan ganda Tiongkok, Ou Xuan Yi / Zhang Nan, 16-21, 21-13, 21-14.

Namun, berkat selamanya disembunyikan oleh berita buruk. Dengan eliminasi cepat, Marcus / Kevin setidaknya akan mendapatkan lebih banyak istirahat sebelum saat mereka tampil di Piala Dunia 2019, yang diselenggarakan di Basel, Swiss pada 19-25 Agustus. Piala Dunia adalah kejuaraan yang belum pernah dimenangkan Marcus / Kevin. Menurut saya bukan hanya karena kelelahan. Greysia / Apri gagal menjaga gelar mereka di Thailand Terbuka setelah kalah dari ganda Korea Chang Ye-na / Kim Hye-rin karena permainan karet bersama dengan skor ketat. Greysia / Apri bahkan memimpin 21-9 di pertandingan pertama. Sayangnya, mereka kudu kalah di game kedua bersama dengan mencetak poin 21-23. Greysia / Apri bahkan memiliki poin pertandingan superior 20-18. Mereka jauh lebih baik di game ketiga, 16-7. Siapa sangka mereka sendiri melaksanakan banyak kekeliruan dan selanjutnya kalah 21-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *